Mengenali Karakteristik Anak

KARAKTERISTIK ANAK DI USIA 3-6 TAHUN
Ada beberapa karakteristik anak pada usia 3-6 tahun yang perlu kita ketahui. Di antaranya adalah:

  1. Belum dapat mengontrol tindakannya dengan baik.
    Pada fase ini anak-anak baru mulai bealajar mengontrol diri dan emosinya
  2. Selalu ingin bergerak dengan leluasa, ingin mencoba berbagai hal yang baru. Mereka senang bereksplorasi
  3. Belajar mengenal banyak hal di lingkungan sekelilingnya. Terkadang mereka terkesan merusak benda, padahal mereka sedang meneliti dan mencoba mencaritahu
  4. Ceriwis, karena mereka sedang belajar bicara,mereka senang dengan kata- kata yang baru. Bahkan kadang-kadang mereka mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, tapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui artinya. Hanya karena mereka sering mendengar kata-kata tersebut dan terkesan lucu di telinga mereka
  5. Masih memiliki ego yang sangat tinggi. Dalam fase ini anak-anak cenderung senang memprotes,merebut, ingin menang-menangan, keras kepala, dan suka pamer
  6. Suka bertanya banyak hal, bahkan sering kali mendetail sampai tak jarang membuat orang dewasa kewalahan dengan pertanyaannya
  7. Mulai dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah
  8. Mulai belajar beradaptasi dengan lingkungannya

Karakteristik-karakteristik ini adalah hal yang masih dapat diwajari pada usia mereka. Namun, seyogyanya orangtua selalu mengawasi dan berusaha untuk meluruskan anak.
Apalagi jika perilaku mereka kurang baik.
Ancaman dan kemarahan sebenarnya bukan hal yang tepat untuk membuat anak mengerti akan kesalahannya. Mereka berbuat salah karena mereka tidak tahu.

Karena itu orangtua harus memberitahu mereka dengan cara yang lembut dan sabar. Orangtua harus selalu kompak dalam menghadapi anak-anak mereka. Jangan sampai ada perbedaan pola asuh antara ayah dengan ibu yang akhirnya membuat anak-anak menjadi bingung. Kalau perlu,ikutlah forum-forum di milis untuk keluarga,sharing dengan orang- orang lain untuk mengambil banyak ibrah (pelajaran).
Sumber : rumahbunda

[vc_row full_width=”” parallax=”” parallax_image=””][vc_column width=”1/1″][vc_column_text css_animation=”appear”]MAMPU MELAHIRKAN BELUM TENTU MAMPU MENDIDIK

(Mari kita terus belajar parenting, dan mengajak sebanyak2nya sahabat dan kerabat untuk belajar parenting bersama kita disini)

Baru saja sy menyaksikan seorang anak balita yang memaki-maki seorang pramusaji, tanpa sebab, hanya untuk cari perhatian orang tuanya dengan kata-kata kurang sopan dan tidak pantas.

Namun sungguh disayangkan orang tuanya malah diam saja menganggap ini sebuah kelucuan. Orang tuanya diam saja dan tidak berusaha untuk mencegahnya.

Sayang sekali kami tidak tega untuk memfoto dan menampilkannya disini.

Perilaku balita yang mengganggu dan tidak sopan bukanlah sebuah kelucuan untuk ditertawakan

Pada saat kita menganggap perilaku anak-anak balita yang mengganggu dan tidak sopan, semisal membentak dan memukul muka orang dewasa sebagai hal yang lucu yang dilakukan oleh seorang anak balita.

Maka tanpa sadar kita telah membuat anak kita kelak berperilaku bermasalah dan mengganggu di sekolahnya atau di tempat-tempat umum.

Tapi sayang tidak banyak dari kita orang tua yang menyadari hal ini.

  • ayah edy -[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Refleksi Akhir Tahun, di Tahun Ketiga (2010-2011)

*Dewi Komariah
Tahun ketiga ? Alhamdulillah sudah dilalui. Dan ditahun ketiga ini..
Kita terus bergerak, begitu dinamis. Terus belajar…menginventarisir apa yang telah dipelajari, mengkaji apa yang berhasil dan apa yang tidak, dan kemudian mencoba cara lain untuk membantu siswa dan juga kami, para guru tumbuh. Pergerakan dan pertumbuhan terus-menerus tidak hanya menghidupkan dan memberdayakan; tetapi juga melelahkan dan membuat frustasi. Karena perjalanan tak selamanya berjalan mulus, lurus dan lulus. Namun perjalanan ini berkelok, menanjak dan terkadang juga ada duri yang menghadang. Pertumbuhan hanya dapat dipertahankan dalam lingkungan yang didalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa mau belajar dan belajar serta saling menghargai dan saling mendukung satu sama lainnya.

Kesalahan, salah langkah, jalan buntu, dan kegagalan adalah hal yang hampir selalu dialami oleh orang yang sedang belajar. Membuat kelasalah baru merupakan bagian penting dari pembelajaran konstruktif (Thomas R Hoerr; 162). Cara terbaik untuk menggambarkan lingkungan tempat guru dan siswa tumbuh secara konstruktif tersimpulkan dalam rekomendasi Esther Dyson (1998) untuk “membuat kesalahan baru” (h.346). Pernyataannya mendalam, penuh implikasi untuk pertumbuhan dan perkembangan :

Tidak ada yang salah dengan membuat kesalahan. berani mengambil resiko dan mencoba sesuatu yang baru adalah tindakan yang bagus, meskipun akan membuat kesalahan dalam prosesnya.
Selama kesalahan tersebut belum pernah terjadi sebelumnya, kita akan belajar dan tumbuh; buatlah kesalahan, tetapi belajarlah dari kesalahan itu sehingga tidak terulang kembali
Jika mereka mendapat manfaat dari membuat kesalahan, mereka harus diberi waktu untuk instrosfeksi

Ketika kita bergerak maju, kita menyadari bahwa apa yang tampak sebagai puncak tertinggi hanyalah dataran tinggi yang diikuti puncak lain dari kejauhan. Keberhasilan hampir selalu diiringi dengan keinginan untuk melakukan lebih banyak. Semakin bnayak yang kita ketahui, semakin kita tahu bahwa masih banyak lagi yang tidak ketahui.

Rendah hati dan sederhana adalah sikap yang selayaknya harus kita miliki dan terus kita pelihara dalam menyongsong tahun keempat (dan tahun-tahun berikutnya) SDIT Bina Muda. Dengan rendah hati kita akan terus belajar dan dengan kesederhanaan kita bangun bersama SDIT Bina Muda yang semakin inspiratif, Tetap Semangat..!!

*Kepala Sekolah SDIT Bina Muda (2008-2013)

Lembar Jawaban Siswa SDIT Bina Muda Yang Viral Mendunia

Lembar Jawaban Siswa SDIT Bina Muda Yang Viral Mendunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Media sosial (medsos) dihebohkan dengan jawaban ujian siswa sekolah dasar (SD). Adalah akun Twitter, @armillaode yang mengunggah lembar jawaban ujian semester 1 murid SDIT Bina Muda tahun pelajaran 2013-2014 yang cukup mengejutkan.

Dalam lembar pertanyaan itu, di sisi kiri terdapat gambar seorang polisi berpakaian dinas lengkap dengan membawa tongkat komando. Muncul pertanyaan, “Siapa dia?” Murid SD yang tidak diketahui identitasnya itu menjawab, “Polisi.”

Pertanyaan kedua adalah, “Apa saja tugasnya?” Terdapat tiga isian yang harus dijawab. Dan, jawaban pertama sangat mengejutkan lantaran diisi dengan, “Minta uang.” Adapun, jawaban kedua dan ketiga bisa disimpulkan secara umum normal, yaitu “Jagain jalan,” dan “Baris-baris.”

Akun @onino99 ikut mengomentari jawaban anak SD terhadap sosok polisi. “Anak-anak polos dan jujur,” katanya.

Artikel ini dimuat di http://www.komisikepolisianindonesia.com/umum/read/18637/ditanya-tugas-polisi-siswa-sd-minta-uang.html

Media sosial (medsos) sedang dihebohkan dengan jawaban ujian siswa sekolah dasar (SD).

Adalah akun Twitter @armillaode mengunggah foto “soal ujian murid SD” tersebut. Sebelumnya, dia juga pernah mengunggah foto soal akibat berbohong jadi presiden dan sekarang, dia mengunggah foto soal tugas polisi.

@armillaode yang mengunggah lembar jawaban ujian semester 1 murid SDIT Bina Muda tahun pelajaran 2013-2014 yang cukup mengejutkan.

Dalam lembar pertanyaan itu, di sisi kiri terdapat gambar seorang polisi berpakaian dinas lengkap dengan membawa tongkat komando.

Dalam gambar ilustrasi polisi tersebut, lalu soal berbunyi, “Siapa dia?” Jawabannya, “Polisi.” Soal berikutnya, “Apa saja tugasnya?”

Jawabannya ada tiga dan diminta disebutkan. Dijawablah, “ 1. Minta uang, 2. Jagain jalan, 3. Baris-baris.”

Readmore: http://www.atjehcyber.net/2014/12/polisi.minta.uang.html?m=1#ixzz3kPi0inEa
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID

Cerita Anak Hebat

Oleh : Dewi Komariah
Cerita 1

Saat pembagian LPS (Laporan Perkembangan Siswa) tengah semester 2 disekolah tempat aku mengajar; SDIT Bina Muda Cicalengka, seorang ibu menghampiriku. “Bu, terima kasih ya… ” selanjutnya ibu itu bercerita tentang anaknya. sehabis pulang sekolah pada saat disekolah ada TO (Try Out) sebagai persiapan ujian, anaknya bilang: “Bu, setelah TO tadi aku bilang ke bu guru untuk tidak membenarkan jawabanku no …. , karena, aku mendapat bocoran jawaban dari teman-teman”, “biar disalahin saja bu, karena itu bukan hasil dari pikiranku sendiri”. Ibunya tercengang mendengar cerita anaknya tersebut… `dan aku? lebih tercengang lagi…. Wow… amazing…

Cerita 2
Suatu hari aku bertemu dengan orang tua murid disuatu tempat. Ibu itu bercerita tentang anaknya yang belum lama ini mengikuti tes beasiswa di sebuah pesantren. Si ibu menjanjikan kepada anaknya jika berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, ia akan tetap mengeluarkan sejumlah uang (sebesar biaya pendidikan ke pesantren tersebut) kepada anaknya, plus semua biaya bulanan yang seharusnya dibayar (jika tak dapat beasiswa). Si anak tentu saja merasa senang. dia sudah membayangkan akan menyimpan uang tersebut direkeningnya. Ia akan kumpulkan uang itu. Lalu si ibu bertanya, “Akan kau pakai untuk apa uang itu Nak?”. Si anak menjawab: “Akan aku kumpulkan, aku ingin memberangkatkan mamah sama papah ke tanah suci”. Si Ibu dengan perasaan campur aduk (haru, bangga, senang), lalu berkata kepada anaknya: “Ibu doakan kamu, semoga kau berhasil!”.

Duh,, merinding mendengar cerita itu.. Apalagi yang diharapkan oleh orangtua, selain anak yang saleh yang bisa membanggakan dan membuat bahagia orangtuanya terutama dengan akhlak mulianya??

dimuat di : http://www.kompasiana.com/rainaanakku/cerita-anak-hebat_55546deab67e613818ba55a6

Anak Masuk RS Jiwa karena Kebanyakan Les

Beberapa hari yang lalu, dunia maya dihebohkan adanya anak yang terpaksa dirawat di RS Jiwa. Ia mengalami keguncangan jiwa karena menghadapi tekanan orang tua yang mengharuskannya mengikuti berbagai macam les. Kalau bertemu dengan orang lain, ia menunjukkan kemampuannya berbahasa Inggris dan berhitung cepat. Bahkan gadis kecil itu bergaya seperti gurunya ketika sedang mengajar. Ibunya hanya bisa menangis. Si gadis kecil berkata polos,”Bunda jangan menangis, aku kan sekarang sudah pintar. Tapi aku nggak mau tidur sama Bunda ya. Aku maunya bobo sama Dokter yang ganteng dan cantik saja.”

Zaman sekarang banyak sekali orang tua yang memasukkan anak-anaknya ke lembaga bimbingan belajar atau les.Alasannya untuk mengangkat nilai-nilai anak di sekolah. Mereka hanya memikirkan angka-angka di raport tanpa pernah mempertimbangkan baik-buruknya dari sisi si anak. Seringkali orang tua tak menyadari bahwa mereka telah memaksakan keinginan kepada anak dan membenarkan pemaksaan tersebut dengan argumen semua itu dilakukan untuk masa depan anak.

Inilah alibat sistem pendidikan link and match yang dijalankan semenjak Orde Baru. Keberhasilan anak hanya diukur sebatas nilai akademik, tetapi mengabaikan pendidikan mental. Anak-anak tak ubahnya seperti robot-robot yang diciptakan untuk mengikuti perintah, bukan sebagai individu-individu merdeka yang bebas berkreasi dan berinovasi. Angka-angka di raport menjadi acuan sehingga orang tua memaksa anak untuk mencapai nilai tertinggi agar dibilang anaknya pintar.

Ambisi Orang Tua

Rasa kepemilikan terhadap anak, menjadikan orang tua egois dan merasa berhak memaksakan keinginannya. Orang tua lupa bahwa anak adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga dengan baik. Cara menjaga anak, bukanlah dengan mencetak mereka menjadi anak-anak yang sekedar mengejar angka-angka di sekolah, melainkan dengan menjadikan mereka bermental kuat dan menjadi orang yang baik. Ingatlah bahwa anak adalah sosok yang berjiwa dan memiliki karakter masing-masing.

Ambisi orang tua terlalu tinggi. Pertama, karena berorientasi pada keberhasilan secara materi. Kalau anak selalu juara kelas, bersekolah di tempat favorit lalu mendapat gelar sarjana di universitas bergengsi, dan pada akhirnya diharapkan bekerja sebagai profesional yang berpenghasilan tinggi, cepat kaya dan memiliki jabatan terhormat. Kedua, karena orang tua melampiasakan keinginan-keinginannya sendiri yang dahulu tidak tercapai, misalnya ingin menjadi orang terkenal, ingin menjadi jutawan, atau ingin menjadi pejabat. Mereka lalu memaksakan anak-anaknya sesuai dengan ambisi mereka dahulu. Ketiga karena orang tua mengidolakan seorang tokoh atau selebriti dan menginginkan anak-anaknya seperti tokoh tersebut. Dalam hal ini sesungguhnya orang tualah yang pantas diperiksakan kesehatan jiwanya.

Fakta di balik ambisi orang tua sebenarnya adalah pelarian dari ketidakmampuan orang tua dalam mengasuh anak. Misalnya karena kesibukan bekerja, mereka tidak sempat lagi membantu anak-anak belajar dan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah). Jika anak mengalami kesulitan belajar, maka dilimpahkan kepada lembaga Bimbel atau tempat di mana mereka mengikuti les. Selain kesibukan bekerja, orang tua juga enggan meng-up grade kemampuannya dalam pelajaran-pelajaran yang diikuti anak.

Berikan Hak Anak Bermain dan Bersosialisasi

Dunia anak adalah dunia bermain. Mereka harus memiliki kebebasan bergaul dengan teman-teman sebaya di lingkungannya. Bermain bersama memberikan stimulan pada anak untuk belajar adaptasi dengan berbagai karakter yang dimiliki teman-temannya. Ia juga belajar beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi Bagaimana cara dia menanggapi suatu masalah dsb. Sosialisasi mendorong anak-anak untuk berperan aktif, melakukan interaksi dengan siapa saja.

Kalau anak-anak dipaksa untuk mengikuti berbagai macam les, bayangkan betapa lelahnya otak mereka. Mereka sudah menghabiskan waktu belajar di sekolah, lalu disambung dengan les ini-itu. Maka sepanjang hari mereka diporsir untuk mempelajari sesuatu. Ketika mereka pulang sudah kelelahan, langsung tidur, tidak sempat bersosialisasi dengan lingkungan, bahkan dengan keluarga sendiri. Jika semua kegiatan itu di luar kemauan si anak, akan timbul pemberontakan. Si anak bisa menunjukkan kenakalan yang tidak biasa, atau jika dipendam akan timbul kasus si anak masuk RS Jiwa.

Orang-orang tua yang telah memiliki kesadaran bahaya dari forsir berlebihan terhadap anak, telah mencari alternatif pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak. Misalnya Sekolah Alam dan Home Schooling. Sistem pembelaran di dua jenis sekolah ini memerhatikan kebutuhan jiwa anak-anak, terutama agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk bersosialisasi. Dengan demikian kasus di atas dapat dihindari.
Sumber : http://www.kompasiana.com/empuratu/anak-masuk-rs-jiwa-karena-kebanyakan-les_54f3b2f9745513902b6c7ccb#sidr-main