Disetiap perintah atau larangan pasti tersimpan sisi manfaat, dampak positif atau negatif sebagai konsekuensi dari adanya aturan tersebut.
Sama halnya dengan aturan, perintah atau larangan yang berlaku didunia ini. Al-Qur’an & Sunnah atau Hadits Rosul merupakan dua aturan dasar yang mestinya dijadikan pedoman dalam melakukan setiap gerak dan langkah kita. Karena didalamnya ada aturan & larangan yang harus dan tidak boleh dilakukan.

Bagi muslim yang memiliki landasan Aqidah yang kokoh, setiap larangan & perintah akan disikapi menurut dasar keimanannya dan wujud ketaatan pada Allah SWT dan Rosulullah SAW, dengan landasan pemahaman dan ilmu pengetahuan tentunya. Namun bagi orang kafir, setiap perintah dan larangan yang berasal dari sumber agama, biasanya akan dilihat dulu dari sisi ilmiah dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Maka beruntunglah kita yang muslim, bila dianalisa dan dikaji secara mendalam menurut sudut pandang ilmu pengetahuan setiap aturan ataupun larangan yang diturunkan Allah SWT melalui Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, pasti memiliki dampak dan konsekuensi tertentu. Banyak ilmuan Barat (yang kafir) mendapatkan hidayah dan kemudian menjadi muslim setelah melakukan penelitian tentang kebenaran Al-Qur’an yang membahas detail tentang Embriologi dan anatomi, sebut saja DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains, menurutnya Al-Qur’an adalah fakta ilmiah, karena itulah ia memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Fakta-fakta tersebut hanya sebagian contoh kecil dalam kehidupan kita, keimanan seseorang akan terus tumbuh dengan terbukanya fakta-fakta rasional dalam setiap perintah dan larangan, bila sebuah aturan (perintah) telah dipahami biasanya orang yang menerima perintahpun akan dengan penuh semangat menjalankannya, begitupun dengan aturan keseharian yang sering kita pelajari. Seperti adanya ketentuan dalam hal makan dan minum tidak boleh sambil berdiri, pertanyaannya mengapa Rosulullah melarang ?

Mengapa Rasulullah melarang ummatnya minum berdiri. Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri” Ini dibuktikan dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah. Jika kita minum berdiri. Air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk.”

Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut.

Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan. Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!

Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.